Jakarta, pagi itu langit mendung. Ribuan massa mulai berdatangan dari berbagai arah, menuju gedung DPR RI di Senayan. Spanduk-spanduk besar terbentang, berisi tuntutan tentang keadilan, harga kebutuhan pokok, dan desakan untuk membatalkan undang-undang baru yang dianggap merugikan rakyat kecil.
Di barisan depan, mahasiswa dengan almamater berwarna hijau, biru, dan kuning berdiri berjejer. Wajah mereka penuh semangat, sebagian mengepalkan tangan, sebagian lagi memegang megafon. “Hidup rakyat! Hidup mahasiswa!” teriak salah seorang orator, suaranya menggema di jalan raya yang sudah ditutup untuk kendaraan.
Aparat kepolisian sudah bersiaga sejak subuh. Barikade kawat berduri dipasang rapi di sepanjang pagar gedung DPR, sementara polisi berperisai membentuk tembok manusia. “Kami sudah siapkan pengamanan humanis, tapi kalau ricuh kita terpaksa bertindak tegas,” ujar seorang komandan lapangan dengan nada datar.
Jam menunjukkan pukul 11 siang. Massa semakin padat. Suhu udara yang panas bercampur teriakan membuat suasana semakin tegang. Wartawan berlarian mencari sudut terbaik untuk merekam momen. Beberapa drone beterbangan di atas kepala, menangkap gambaran lautan manusia yang tak terbendung.
Baca Juga : Jadwal Imsakiyah Kabupaten OKU dan Kabupaten Muara Enim
Tiba-tiba, dari arah belakang massa, suara petasan terdengar. Orang-orang berhamburan, sebagian berteriak panik. Polisi mulai mengetatkan barisan. Orator mencoba menenangkan, “Kawan-kawan! Jangan terpancing! Kita datang dengan damai!” Tapi suasana sudah sulit dikendalikan.
Sekitar pukul 2 siang, bentrokan pecah. Gas air mata ditembakkan, asap putih membubung tinggi. Mahasiswa berlarian, sebagian menutup wajah dengan jaket, sebagian bersembunyi di trotoar. Batu, botol, dan kayu melayang ke arah aparat. Jalan Gatot Subroto berubah menjadi arena perlawanan.
Di tengah kekacauan itu, seorang mahasiswi dengan jilbab hitam berdiri di atas pagar pembatas jalan, sambil mengibarkan bendera merah putih. “Kita berjuang untuk rakyat!” teriaknya lantang, membuat massa kembali bersemangat meski gas air mata masih mengepul.
Menjelang senja, hujan deras mengguyur Jakarta. Perlahan massa mulai bubar, sebagian bertahan dengan nyanyian perjuangan, sebagian pulang dengan mata merah dan tubuh lelah. Di halaman gedung DPR, aparat masih berjaga dengan wajah tegang.
Hari itu berakhir tanpa keputusan jelas. Tuntutan rakyat belum dijawab, sementara suara demonstrasi tetap menggema di jalanan ibu kota. Besok, entah akan ada lagi gelombang baru atau tidak—tapi satu hal pasti, kisah ini menjadi catatan penting di perjalanan demokrasi negeri.