BM News : Udara pagi itu masih terasa sejuk ketika sirene bahaya menggema di langit ibu kota. Di jantung kota Kyiv, asap hitam membubung dari puing-puing gedung yang baru saja dihantam rudal. Jeritan, debu, dan deru ambulans menyatu menjadi simfoni duka yang terus berulang dalam babak panjang invasi Rusia ke Ukraina yang kini telah memasuki tahun ketiganya.
Setidaknya 31 orang dinyatakan tewas, termasuk beberapa anak-anak yang tengah belajar di sebuah pusat komunitas anak. Lebih dari 150 lainnya mengalami luka-luka, banyak di antaranya menderita luka serius karena serpihan kaca dan logam yang menghujani area sipil.
Di sela-sela puing dan suara tangis, Presiden Volodymyr Zelenskyy berdiri dengan sorot mata tajam di depan kamera. Ia tidak hanya menyampaikan belasungkawa, tetapi juga menyuarakan seruan paling lantang sejauh ini: “Rezim di Moskow harus berubah jika dunia menginginkan perdamaian sejati.”
Pernyataan itu menandai titik balik dalam diplomasi Ukraina. Alih-alih hanya membela diri, kini mereka secara terbuka menyerukan pergantian rezim di Rusia. Sebuah langkah berani — atau nekat — di tengah perang yang kian menggila.
Perang Data dan Darah
Statistik bulan Juli mencatat angka kelam: lebih dari 33.000 tentara Rusia dilaporkan tewas menurut pihak Ukraina. Namun, wilayah yang direbut Rusia juga bertambah — sekitar 713 km² direbut dari tangan Ukraina, sementara pasukan Kyiv hanya mampu merebut kembali sekitar 79 km² wilayahnya sendiri.
Perang bukan hanya soal senjata dan strategi, tapi juga tentang nyawa, harapan, dan rumah-rumah yang hancur menjadi abu. Di desa-desa yang menjadi garis depan, anak-anak tumbuh dengan suara drone dan mortir sebagai latar kehidupan sehari-hari.
Di satu sisi, pemerintah Ukraina mencoba bertahan. Di sisi lain, tekanan publik memaksa reformasi dalam negeri. Akhir Juli lalu, Zelenskyy menandatangani kembali undang-undang anti-korupsi yang sempat menuai kritik, sebagai sinyal bahwa perang bukan alasan untuk mengabaikan pemerintahan yang bersih.
Laut Tengah yang Memerah Darah
Sementara itu, ribuan kilometer dari Eropa Timur, wilayah Gaza kembali menjadi lautan luka. Sejak perang meletus pada akhir 2023, lebih dari 60.000 warga Palestina telah tewas, mayoritas perempuan dan anak-anak.
GHF, organisasi bantuan kemanusiaan dari Amerika, baru-baru ini mengirim utusan khusus ke Gaza — Steve Witkoff, pengusaha sekaligus perwakilan Trump Foundation, yang didampingi oleh mantan Gubernur Mike Huckabee. Namun kehadiran mereka malah menuai kontroversi. Beberapa lokasi distribusi bantuan justru menjadi titik tembak mematikan.
Seorang anak perempuan berusia 8 tahun tewas saat menunggu roti. Seorang ibu kehilangan kedua kakinya saat mencoba mencari air bersih. Gaza kini bukan sekadar zona konflik — melainkan ruang kematian terbuka, di mana kelaparan menjadi senjata diam yang jauh lebih menyakitkan dari peluru.
Asap di Teluk Persia
Pada Juni lalu, langit Iran memerah ketika Israel meluncurkan serangan udara ke situs nuklir dan pangkalan militer. Iran membalas dengan meluncurkan drone dan rudal balistik ke wilayah Israel, dibantu oleh sekutu-sekutunya: Hizbullah di Lebanon, milisi Houthi di Yaman, dan pasukan bayangan dari Irak.
Perang tersebut berlangsung dua belas hari, namun dampaknya membekas jauh lebih lama. Ribuan orang kehilangan rumah. Pasokan listrik, air, dan makanan terganggu. Dunia pun menahan napas. Sekali saja peluru nyasar ke pangkalan AS di Teluk, seluruh kawasan bisa terbakar menjadi Perang Dunia ketiga.
Dunia yang Menyaksikan Tanpa Bertindak
Masyarakat global, sebagaimana biasanya, menyaksikan dari kejauhan — sebagian dengan simpati, sebagian dengan acuh. Beberapa negara mulai berbicara tentang “kecemasan”, “proses diplomatik”, dan “gencatan senjata.” Tapi bagi mereka yang hidup di medan perang, setiap hari adalah ujian antara hidup dan mati.
Mungkin dunia tidak sedang menuju kedamaian. Mungkin, seperti kata seorang ibu di Gaza yang anaknya baru saja meninggal, “kami bukan sedang berperang — kami sedang dilupakan.”
1. Tidak Ada Perang Dunia II: Dunia Tanpa Genosida dan Kehancuran Global
Menurut sejarawan Niall Ferguson (Oxford), jika Perang Dunia II tidak terjadi:
-
Tidak akan ada Holocaust dan kematian 70+ juta jiwa.
-
Eropa mungkin tetap menjadi kekuatan dominan dunia lebih lama, karena kehancuran ekonomi dan sosial akibat perang tidak terjadi.
-
Kolonialisme mungkin bertahan lebih lama, karena kekuatan kolonial seperti Inggris, Prancis, dan Belanda tidak dilemahkan oleh perang.
-
Amerika Serikat mungkin tidak menjadi adidaya secepat itu, karena keterlibatannya dalam peranglah yang memicu kebangkitan ekonominya.
2. Kemajuan Teknologi Bisa Lebih Lambat (atau Lebih Lambat di Bidang Tertentu)
Menurut Yuval Noah Harari (penulis Sapiens), Perang Dunia II mempercepat banyak inovasi:
-
Komputasi (karena proyek seperti mesin Enigma dan komputer awal di Inggris/AS).
-
Penerbangan dan roket (program roket Jerman V2 jadi dasar teknologi NASA).
-
Kedokteran (pengembangan antibiotik seperti penicillin dan transfusi darah skala besar).
Tanpa perang, kemajuan ini mungkin baru muncul puluhan tahun kemudian.
3. Tidak Ada PBB, Mungkin Tidak Ada Deklarasi HAM
Sejarawan Anthony Beevor mencatat bahwa pembentukan PBB dan Universal Declaration of Human Rights (1948) terjadi sebagai tanggapan atas kekejaman Nazi dan kehancuran perang. Tanpa itu:
-
Tidak ada dorongan global terhadap hak asasi manusia.
-
Organisasi multilateral mungkin jauh lebih lemah atau tidak ada.
4. Perang Dingin Bisa Berbeda atau Tidak Pernah Terjadi
Tanpa Perang Dunia II:
-
Uni Soviet mungkin tidak mendapatkan wilayah kekuasaan di Eropa Timur.
-
Amerika Serikat dan Uni Soviet mungkin tidak menjadi musuh ideologis utama.
-
Mungkin tidak ada perlombaan senjata nuklir atau konflik ideologis global seperti di Vietnam dan Korea.
5. Dampak Etika dan Filosofis
Filusuf Hannah Arendt mencatat bahwa tragedi seperti Holocaust memaksa dunia berpikir ulang tentang kejahatan, moralitas, dan sistem politik. Tanpa Perang Dunia II:
-
Banyak refleksi moral dan hukum internasional tentang kejahatan terhadap kemanusiaan mungkin tidak muncul.
-
Konsep seperti “kejahatan yang tidak bisa dibayangkan” (unthinkable evil) mungkin tidak dibahas di ranah hukum.
| Bidang | Tanpa Perang Dunia II |
|---|---|
| Politik Global | Eropa tetap dominan, AS dan Uni Soviet tidak sekuat itu |
| Teknologi | Kemajuan lebih lambat |
| Hak Asasi | Tidak ada PBB/UDHR |
| Ekonomi | Tidak ada Marshall Plan, ekonomi Eropa stagnan |
| Moralitas | Dunia lambat mengenali konsep genosida dan HAM |
Posting Komentar